Transformasi
Briket Arang PT Karangpilang Agung
Produk utama PT Karangpilang Agung (KPA) Surabaya, briket arang yang seluruh bahan baku dari serbuk kayu keras kelas satu dari berbagai daerah di Indonesia, terus bertransformasi.
Produk utama PT Karangpilang Agung (KPA) Surabaya, briket
arang yang seluruh bahan baku dari serbuk kayu keras kelas satu dari berbagai
daerah di Indonesia, terus bertransformasi.
Produsen ini terus meningkatkan kapasitas produksi dengan
menambah 300 fasilitas oven bumi. Dengan demikian, sekarang, KPA yang
beroperasi sejak 1989 ini didukung 812 unit oven. Selain menambah oven,
berbagai teknologi dalam proses produksi pun mulai diterapkan.
Komisaris Utama KPA, Ho Hartono Wibowo mengungkapkan pada
acara Peringatan Setahun Export Perdana PT Karangpilang Agung sekaligus
peletakan batu pertama selasar dan oven bumi, Kamis (4/1/2024).
Menurut Hartono, bertambahnya fasilitas oven otomatis bisa
mendongkrak produksi briket arang dengan bahan baku serbuk kayu (sawdust
briquette charcoal) sebanyak 106 kontainer 40 feet per bulan. Volume setiap
kontainer 27 ton.
Progres pembangunan fasilitas oven bumi tersebut
diperkirakan rampung dalam waktu 3 bulan atau paling tidak Maret 2024 sudah
selesai.
Penambahan kapasitas produksi, lanjut Hartono, terus
dilakukan karena permintaan pasar ekspor dari berbagai negara sejak Januari
2023 terus meningkat. Pada Januari 2023, KPA yang mendapat dukungan modal dari
Bank Ina berhasil mengekspor 1 kontainer berukuran 40 feet ke Jepang, tapi kini
setiap bulan bisa mengekspor ke berbagai negara sebanyak 328 kontainer.
Dia menjelaskan, pangsa pasar ekspor arang buatan KPA di
antaranya Jepang dan Taiwan, disusul kawasan Timur Tengah yakni Arab Saudi dan
Lebanon, serta Turkiye, Yunani, Perancis, Jerman dan Belanda, serta Australia.
Potensi pasar ekspor ke depan sangat besar. Bahkan, ketika
pandemi Covid-19 yang berlangsung hingga 2022, dengan biaya angkut atau freight
kapal naik hingga tiga kali lipat, produk KPA tetap mengalir ke luar negeri.
Hartono menambahkan, soal bahan baku, KPA memiliki pemasok
kayu dari berbagai daerah, antara lain Papua, Banjarmasin, Samarinda, dan
Balikpapan. Rerata bahan baku dipasok ke KPA sekitar 40–50 truk serbuk kayu
setiap hari.
“Serbuk kayu sebagai bahan baku utama, briket arang yang
seluruhnya diekspor, kayu kelas 1 dan kelas 2 sehingga memiliki tekstur lebih
keras sehingga penggunaannya sangat awet,” ujarnya.
Penghasil devisa
Hartono mengatakan, dalam pengembangan usaha arang briket
serbuk kayu, KPA mendapat dukungan pembiayaan dari PT Bank Ina Perdana Tbk
(Bank Ina).
Menurut Hartono, Bank Ina sangat memberi perhatian terhadap
perusahaan dengan potensi menghasilkan devisa dari ekspor non migas.
“Dukungan Bank Ina bagi KPA sangat tepat sasaran pada saat
KPA bangkit lagi pascavakum. KPA mendapat pelayanan dari Bank Ina dengan
profesional,” imbuhnya.
Direktur Utama Bank Ina, Henry Koenaifi, mengatakan, “Bank
Ina telah melihat kemampuan KPA yang ditunjang suatu kompetensi sehingga
perbankan tidak ragu untuk memberikan pembiayaan usaha.”
Selama ini, KPA, mulai dari bahan baku, hak paten, hingga
manajemen perusahaan, terus bertransformasi dan mampu mengikuti selera pasar
internasional.
“Dalam pemberian kredit, bank akan melihat kompetensi
perusahaan beserta karakternya,” ujarnya
https://www.kompas.id/baca/adv_post/transformasi-briket-arang-pt-karangpilang-agung

0 Comments